Nasional

Jumat Agung: Ketika Kasih Mengalahkan Kebencian

104
×

Jumat Agung: Ketika Kasih Mengalahkan Kebencian

Sebarkan artikel ini

Setiap tahun, umat Kristiani di seluruh dunia memperingati Jumat Agung, sebuah hari yang sarat makna, hening, dan penuh perenungan. Hari ini mengingatkan umat manusia pada peristiwa paling tragis sekaligus paling agung dalam sejarah iman Kristen: penyaliban Yesus Kristus di Golgota.

Bagi banyak orang, penyaliban adalah simbol penderitaan dan kematian. Namun bagi umat Kristiani, Jumat Agung justru menjadi simbol cinta yang paling radikal yang pernah ditunjukkan kepada manusia.

Yesus Kristus, yang menurut iman Kristen adalah Anak Allah, tidak mati karena kesalahan-Nya sendiri. Ia disalibkan karena kebencian, fitnah, dan ketidakadilan manusia. Ia diadili secara tidak adil, dihina, disiksa, dan akhirnya disalibkan. Namun di tengah penderitaan yang luar biasa itu, Yesus tidak membalas dengan kemarahan.

Sebaliknya, dari atas kayu salib Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Kalimat ini menjadi salah satu pesan paling kuat dalam sejarah kemanusiaan. Di tengah dunia yang sering diwarnai balas dendam, kebencian, dan kekerasan, Yesus justru menunjukkan jalan yang berbeda: pengampunan.

Jumat Agung mengingatkan kita bahwa cinta sejati bukan sekadar kata-kata indah. Cinta sejati adalah pengorbanan. Cinta sejati adalah kesediaan memberi diri bagi orang lain, bahkan ketika dunia membalas dengan penolakan.

Dalam kehidupan modern yang penuh persaingan, ego, dan kepentingan pribadi, pesan salib menjadi semakin relevan. Kita hidup di zaman di mana perbedaan sering menjadi alasan untuk saling menyerang, baik di media sosial maupun dalam kehidupan nyata. Banyak orang cepat menghakimi, tetapi lambat untuk memahami.

Salib Kristus mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada kekuasaan atau kekerasan, melainkan pada kerendahan hati dan kasih.

Jumat Agung juga mengajak kita untuk bercermin. Jika Yesus rela menderita demi menyelamatkan manusia, maka pertanyaannya bagi kita adalah: sejauh mana kita rela berkorban untuk sesama?

Apakah kita masih mampu mengampuni ketika disakiti?

Apakah kita masih mampu menolong tanpa berharap balasan?

Apakah kita masih mampu memilih kasih ketika kebencian terasa lebih mudah?

Inilah refleksi yang sesungguhnya dari Jumat Agung.

Salib bukan hanya simbol agama, tetapi juga panggilan moral bagi setiap manusia untuk hidup dalam kasih, keadilan, dan pengampunan.

Namun Jumat Agung bukanlah akhir dari cerita. Dalam iman Kristen, penderitaan salib berujung pada kebangkitan. Setelah kegelapan Golgota, fajar Paskah akan datang.

Itulah harapan yang selalu menyertai umat manusia: bahwa setelah penderitaan, selalu ada kebangkitan; setelah kegelapan, selalu ada terang.

Maka ketika lonceng gereja berdentang pada Jumat Agung, itu bukan hanya tanda berkabung. Itu adalah panggilan untuk mengingat bahwa kasih yang sejati selalu lebih kuat daripada kebencian.

Dan salib Kristus menjadi bukti bahwa pengorbanan yang lahir dari cinta tidak pernah sia-sia. ##