Nasional

Zulhas Buka Rakernas III PJS, Singgung Perdagangan RI-Singapura

74
×

Zulhas Buka Rakernas III PJS, Singgung Perdagangan RI-Singapura

Sebarkan artikel ini

BATAM – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyoroti pola perdagangan komoditas Indonesia dengan negara tetangga, khususnya Singapura. Ia menilai Indonesia selama bertahun-tahun kehilangan potensi keuntungan ekonomi karena ekspor sumber daya alam masih bergantung pada negara perantara.

Padahal, Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekuatan produksi komoditas strategis dunia, seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), nikel, dan timah. Namun, besarnya potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan keuntungan ekonomi maksimal bagi negara.

Hal itu disampaikan Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III Dewan Pimpinan Pusat Pro Jurnalis Media Siber (PJS) Indonesia Tahun 2026 di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (4/11/2026).

 

Dalam sambutannya, Zulhas mengungkapkan bahwa praktik perdagangan melalui negara perantara menyebabkan komoditas Indonesia dibeli dengan harga relatif rendah, kemudian dipasarkan kembali ke negara tujuan dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Ia mencontohkan perdagangan CPO yang menurutnya memiliki selisih harga cukup besar antara harga jual Indonesia dan harga di pasar dunia.

“Harga CPO dunia Rp27.000, kita jual ke tetangga Rp15.000. Berarti kita rugi pajak Rp13.000. Bertahun-tahun. Kita tidak mau lagi masa bodoh terus. Kita ingin ekspor langsung,” tegas Zulhas.

Menurutnya, pola perdagangan tersebut perlu segera dievaluasi agar Indonesia tidak terus kehilangan potensi pendapatan dari komoditas unggulan nasional.

“Kita ingin negara maju, berdaulat. Saya kadang kesel juga. Produksi CPO terbesar, nikel, timah terbesar, tapi ekspornya lewat negara tetangga,” ujarnya.

Zulhas menegaskan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ingin mendorong pola perdagangan yang memberikan nilai tambah lebih besar bagi Indonesia. Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah memperkuat akses ekspor langsung ke negara tujuan tanpa bergantung pada negara perantara.

Melalui langkah tersebut, Indonesia diharapkan memiliki kendali lebih besar terhadap rantai perdagangan internasional sekaligus memperoleh manfaat ekonomi yang lebih optimal dari kekayaan sumber daya alamnya.

Soroti Tekanan Ekonomi dan Pasar Keuangan

Selain persoalan perdagangan komoditas, Zulhas juga menyinggung sejumlah isu yang menurutnya memperlihatkan tekanan terhadap posisi Indonesia dalam dinamika ekonomi regional maupun global.

Ia menyebut persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), antrean bahan bakar minyak (BBM) di Bali, hingga sorotan terhadap pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Zulhas mengaitkan berbagai persoalan tersebut dengan dugaan adanya tekanan terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

“Antrean bensin di Bali, karhutla, dua negara tetangga ngomel-ngomel. Lalu tiba-tiba MSCI, kamu jelek, minta disamakan Zimbabwe. Pasti itu perlawanan. Targetnya saham rontok, rupiah melemah, sembako naik, lalu ganti pemerintah,” ujar Zulhas.

Pernyataan tersebut disampaikan Zulhas dalam forum Rakernas III PJS di Batam. Ia menekankan pentingnya memperkuat kedaulatan ekonomi agar Indonesia mampu mengelola dan memperoleh manfaat maksimal dari potensi perdagangan serta sumber daya alam yang dimiliki.(741t)