Nasional

150 Hektare Sawah di Simalungun Kekeringan, Petani Gagal Tanam

120
×

150 Hektare Sawah di Simalungun Kekeringan, Petani Gagal Tanam

Sebarkan artikel ini

SIMALUNGUN – Sekitar 150 hektare lahan persawahan di Dusun Bah Ruksi dan Dusun Sabah II, Nagori Pematang Pane, Kecamatan Panombean Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, mengalami kekeringan parah. Kondisi tersebut menyebabkan pola tanam petani gagal total.

Ketua Kelompok Tani Fitofit Mujur, Kristal Sembiring, mengatakan kekeringan mulai terjadi sejak awal Januari 2026. Akibatnya, lahan sawah tidak lagi mendapatkan pasokan air sehingga tanah menjadi pecah-pecah dan tidak dapat ditanami padi.

“Sejak awal Januari 2026 areal persawahan kami sama sekali tidak mendapatkan pasokan air. Tanah sawah sudah pecah-pecah sehingga tidak bisa lagi ditanami. Pola tanam pun gagal total,” ujar Kristal Sembiring saat berbincang dengan wartawan di kediamannya di Dusun Bah Ruksi, Jumat (27/3/2026).

Menurutnya, setelah warga menelusuri penyebab kekeringan tersebut, diduga kuat terjadi pengalihan sumber air dari umbul yang berada di Dusun Aek Nauli, Kecamatan Panombean Panei. Umbul yang sebelumnya menjadi sumber irigasi pertanian diduga dialihkan menjadi salah satu sumber debit air untuk PDAM Tirtauli Kota Pematangsiantar.

Ia menjelaskan, pihak PDAM bahkan telah membangun penyekat permanen di sekitar umbul tersebut sehingga aliran air tidak lagi mengalir ke saluran irigasi primer maupun sekunder yang selama ini digunakan petani.

“Umbul air itu sekarang disekat dengan bangunan permanen. Akibatnya, air tidak lagi mengalir ke saluran irigasi untuk sawah kami,” katanya.

Kristal menyebutkan, warga telah melaporkan persoalan tersebut secara lisan kepada pemerintah setempat, mulai dari Pangulu Nagori Pematang Pane hingga pihak kecamatan.

“Kami sudah melaporkan kejadian ini kepada Pangulu dan Camat. Bahkan warga bersama Pangulu dan Camat sudah turun langsung melihat kondisi umbul air tersebut,” ungkapnya.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Simalungun segera mengambil langkah untuk mengembalikan fungsi dan alur irigasi seperti semula. Jika tidak segera ditangani, para petani dikhawatirkan kehilangan sumber mata pencaharian mereka.

“Sebagian besar warga di sini menggantungkan hidup dari hasil pertanian sawah. Kalau air tidak kembali mengalir, kami bisa kehilangan mata pencaharian,” tambahnya.

Sementara itu, Pangulu Nagori Pematang Pane, Jhonsidi Hutasoit, saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp, membenarkan adanya dugaan alih fungsi umbul air oleh pihak PDAM Tirtauli Kota Pematangsiantar.

Hal senada juga disampaikan Camat Panombean Panei, Lina Damanik. Ia mengakui adanya pengalihan fungsi sumber air tersebut yang berdampak pada kebutuhan irigasi petani.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengembalikan fungsi umbul air itu seperti semula. Langkah pertama yang akan kami lakukan adalah berkoordinasi dan mengonfirmasi langsung kepada instansi terkait di Pemerintah Kabupaten Simalungun,” ujar Lina.(741t)