SIMALUNGUN – Serangan hama ulat api kembali menjadi momok bagi perkebunan kelapa sawit di wilayah Kabupaten Simalungun. Kali ini, serangan tersebut melanda areal tanaman menghasilkan (TM) di Afdeling II Unit Kebun Mayang, yang dikelola oleh PTPN IV Regional II.

Dari hasil pantauan dan informasi yang dihimpun di lapangan, luas lahan yang terdampak di duga mencapai puluhan hektare. Tanaman sawit yang terserang tampak mengalami kerusakan berat, khususnya pada bagian daun. Daun kelapa sawit terlihat habis dimakan ulat api hingga hanya tersisa tulang-tulang daunnya saja. Kondisi ini tentu sangat merugikan, mengingat daun merupakan bagian vital tanaman untuk proses fotosintesis yang menentukan produktivitas tandan buah segar (TBS).

Dampak Serangan: Produksi Terancam Turun
Ulat api diketahui menyerang secara masif dan agresif. Tanaman sawit yang sebelumnya berada dalam fase produksi optimal kini berisiko mengalami penurunan hasil panen secara signifikan. Dalam jangka panjang, serangan ini dapat menyebabkan kerugian besar bagi perusahaan negara yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit tersebut.
“Jika serangan ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan hanya penurunan produksi yang terjadi, tetapi juga kerusakan permanen pada struktur tanaman,” ujar salah satu pekerja kebun yang enggan disebutkan namanya.

Ulat Api Masih Aktif dan Menyebar
Yang lebih mengkhawatirkan, ulat api tidak hanya menyerang daun. Dari pengamatan di lokasi kejadian, ulat-ulat tersebut juga terlihat masih aktif merayap di sekitar permukaan tanah. Hal ini menunjukkan bahwa hama masih berada dalam fase aktif dan berpotensi terus menyebar ke tanaman lain yang berada dalam radius terdekat.
Beberapa pekerja menyatakan bahwa serangan ini sudah berlangsung beberapa hari terakhir, namun hingga kini belum terlihat adanya tindakan penanganan yang serius dari pihak pengelola kebun.
Manajemen Belum Memberikan Keterangan
Upaya konfirmasi kepada pihak manajemen kebun masih belum membuahkan hasil. Asisten Kepala Afdeling II Unit Kebun Mayang, yang diketahui bermarga Marpaung, tidak merespons saat dihubungi melalui pesan WhatsApp. Beberapa pesan yang dikirim juga tidak mendapat balasan hingga berita ini diturunkan, Senin, 16 Juni 2025.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan di kalangan pekerja dan masyarakat sekitar terkait langkah cepat dan tanggap dari pihak pengelola terhadap persoalan serius ini. Penanganan yang lambat dikhawatirkan akan memperluas dampak dan menambah kerugian perusahaan, baik dari sisi ekonomi maupun kepercayaan publik.
Sejumlah pihak mengimbau agar manajemen PTPN IV segera turun tangan dan melakukan tindakan konkret. Selain untuk mencegah kerugian lebih lanjut, langkah cepat juga penting untuk menjaga produktivitas dan kelangsungan ekonomi para pekerja dan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari perkebunan tersebut. (Red)





