Berita Daerah

Pomparan Op Partinogong Sihotang Gelar Tradisi Pelleng dan Kupulen Nditak, Perkuat Persatuan di Pangguruan

1233
×

Pomparan Op Partinogong Sihotang Gelar Tradisi Pelleng dan Kupulen Nditak, Perkuat Persatuan di Pangguruan

Sebarkan artikel ini

DAIRI – Keturunan Op Napitu atau Pomparan Op Partinogong Sihotang menggelar tradisi makan Pelleng dan Kupulen Nditak sebagai simbol perdamaian, persatuan, dan kebersamaan di Desa Pangguruan, Kecamatan Sumbul, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, Minggu (26/7/2026).

Tradisi adat tersebut menjadi sarana mempererat tali persaudaraan sekaligus memperkuat komitmen untuk menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah dan mufakat berdasarkan hukum adat, bukan dengan mengedepankan kekuatan fisik.

Salah seorang tokoh keturunan Op Partinogong Sihotang, Op Cardo, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menyatukan pemahaman seluruh pomparan agar tetap solid dalam membangun Desa Pangguruan.

“Kami ingin menyatukan pemahaman seluruh keluarga agar tetap bersatu memajukan Desa Pangguruan. Makan Pelleng dan Kupulen Nditak melambangkan kebersamaan dalam suka maupun duka, serta mempererat ikatan kekeluargaan ketika terjadi perbedaan pendapat menuju mufakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, seluruh keturunan Op Napitu juga memanjatkan doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberikan kesehatan, dijauhkan dari perselisihan, serta tercipta suasana damai dan nyaman bagi masyarakat Desa Pangguruan.

Tokoh adat H. Kajiman Sihotang menegaskan bahwa tradisi makan “makanan pedas” tersebut merupakan bentuk doa bersama sekaligus simbol penyatuan seluruh Pomparan Op Partinogong Sihotang agar tetap menjaga kebersamaan dan tidak mengutamakan kepentingan pribadi.

 

“Tujuan kegiatan ini adalah memperkuat persatuan seluruh keturunan Op Partinogong. Kebersamaan harus dijaga demi kepentingan bersama, bukan untuk memperkaya diri sendiri,” katanya.

Usai prosesi adat, para keturunan Op Partinogong bermusyawarah dan sepakat membagikan sebidang tanah peninggalan leluhur kepada tujuh garis keturunan sebagai partapakan atau lahan simbolis. Pembagian tersebut dimaksudkan sebagai penanda keberadaan masing-masing keturunan agar sejarah Pomparan Op Partinogong tetap terpelihara di Desa Pangguruan.

Kajiman juga menyampaikan pandangannya terkait sejarah keturunan dan status Op Pacingir sebagai pihak yang diyakini keluarganya merupakan pembuka huta (Sipukka Huta) di Pangguruan. Menurutnya, persoalan tersebut telah melalui proses hukum dan menjadi dasar keluarganya mempertahankan hak waris. Pernyataan tersebut merupakan pandangan dari pihak keluarga Op Partinogong Sihotang.

Selain itu, masing-masing perwakilan keturunan menerima partapakan berukuran sekitar 5 x 25 meter sebagai simbol persatuan dan kebersamaan. Kajiman menegaskan bahwa lahan tersebut tetap disediakan bagi keturunan yang berhalangan hadir sebagai bentuk penghormatan dan upaya menjaga hubungan kekeluargaan, meskipun selama ini terdapat perbedaan pandangan terkait persoalan warisan.

“Kami tetap merangkul seluruh keluarga. Harapan kami, segala perselisihan dapat diselesaikan dengan baik sehingga seluruh Pomparan Op Partinogong Sihotang tetap bersatu, sepaham, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik,” tutup H. Kajiman Sihotang.

Adapun perwakilan penerima partapakan tanah tersebut yakni Wanri Pintu Batu (Op Baggi Sihotang), Pengki Sihotang (Op Pakitab Sihotang), perwakilan Op Parbikkas Sihotang, Kardo Sihotang (Op Saur Sihotang), Sappang Sihotang (Op Rahe Sihotang), Akbar Sihotang (Op Ruppur Sihotang), serta Cahaya Sihotang dan Hotma Tumanggor sebagai perwakilan keturunan Op Lampo Sihotang.(CN)