Nasional

Dugaan Mark-Up Dana Desa di Nagori Jawa Baru, Proyek Rabat Beton Bernilai Ratusan Juta 

87
×

Dugaan Mark-Up Dana Desa di Nagori Jawa Baru, Proyek Rabat Beton Bernilai Ratusan Juta 

Sebarkan artikel ini

SIMALUNGUN – Penggunaan dana desa tahun anggaran 2025 di Nagori Jawa Baru, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, tengah menjadi sorotan publik. Dugaan kuat adanya praktik mark-up atau penggelembungan anggaran dalam pelaksanaan kegiatan fisik pembangunan rabat beton di Huta III mencuat ke permukaan, menyusul berbagai kejanggalan yang ditemukan di lapangan.

 

Dari hasil pantauan langsung di lokasi proyek pada Jumat, 18 Juli 2025, terlihat bahwa pelaksanaan dua kegiatan rabat beton yang masing-masing bernilai Rp182 juta dan Rp163 juta itu hanya melibatkan sekitar 12 orang pekerja harian. Proyek yang seharusnya mengedepankan prinsip padat karya untuk memberdayakan warga setempat, justru terkesan tidak optimal dalam menyerap tenaga kerja desa.

 

“Kami hanya 12 orang yang kerja. Upahnya Rp120 ribu per hari. Lebih enak kerja ini, santai, dari pada cari berondolan cuma dapat Rp100 ribu,” ungkap salah seorang pekerja yang ditemui saat beristirahat di lokasi pembangunan.

Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar mengingat besarnya anggaran yang dialokasikan untuk dua kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaan proyek padat karya yang didanai dari dana desa, semestinya alokasi untuk upah pekerja dan penggunaan material mencerminkan nilai anggaran yang dikeluarkan.

Lebih jauh, ditemukan pula indikasi pengurangan volume atau kualitas material dalam proyek tersebut. Pemasangan plastik sheet, yang berfungsi sebagai alas sebelum pengecoran beton dilakukan, hanya dipasang di bagian pinggir jalan, bukan secara menyeluruh sebagaimana mestinya. Padahal, dalam standar operasional pekerjaan rabat beton, plastik sheet penting untuk mencegah pencemaran tanah terhadap adonan semen serta menjamin kualitas dan daya tahan konstruksi.

Tak hanya itu, papan bekisting atau bagesting yang semestinya digunakan sebagai cetakan beton tampak dipindah-pindahkan antar lokasi pengerjaan. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa pengadaan bagesting tidak sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan bisa jadi jumlah pengadaannya dimanipulasi.

 

Material batu padas juga terlihat digunakan dalam proses pengecoran rabat beton. Batu jenis ini dikenal kurang ideal untuk proyek jalan beton karena kekuatannya lebih rendah dibandingkan batu split standar. Penggunaan batu padas bisa menurunkan kualitas jalan dan memperpendek umur teknis proyek.

Ketika wartawan mencoba mengonfirmasi langsung kepada Pangulu Nagori Jawa Baru, NS, yang berkantor di kantor pangulu setempat, yang bersangkutan tidak berada di tempat.

“Pangulu sedang keluar, mengurus NPWP ke Perdagangan,” ujar salah satu perangkat nagori singkat.

“Kalau dana desa sampai diselewengkan, ini mencederai tujuan utama dana tersebut, yaitu untuk membangun desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa,” ujar R.Girsang, salah satu pemerhati kebijakan publik saat ditemui sala satu warkop jalan Gereja Pematangsiantar (tp)