Nasional

Wakili Sumatera Utara, Eszra Sibarani Angkat Budaya Batak Lewat “Pasu-pasu” di Kompetisi BWC Bali

301
×

Wakili Sumatera Utara, Eszra Sibarani Angkat Budaya Batak Lewat “Pasu-pasu” di Kompetisi BWC Bali

Sebarkan artikel ini

MEDAN — Eszra Nicolas Sibarani, pemuda asal Medan berusia 22 tahun, kini tengah berkompetisi di ajang bergengsi Beverage Wonder Championship (BWC) yang digelar di Bali. Ia berhasil melaju mewakili Kota Medan setelah menyingkirkan sejumlah pesaing kuat di tingkat daerah.

Bagi kalangan bartender dan barista, BWC merupakan ajang prestisius yang tidak hanya menuntut keterampilan tinggi dalam meracik minuman, tetapi juga menantang peserta untuk menghadirkan inovasi baru dengan cita rasa khas Nusantara.

“Tema kompetisi kali ini mengangkat kearifan lokal. Kami diminta menciptakan cocktail dan mocktail berbahan dasar lokal,” ujar Eszra saat ditemui usai sesi kompetisi hari pertama, Kamis (9/10/2025).

Pada hari kedua kompetisi, Jumat (10/10/2025), Eszra menampilkan karya inovatifnya yang ia beri nama ‘Pasu-pasu’, sebuah racikan minuman yang terinspirasi dari budaya dan kuliner khas Batak.

“Saya memberi nama Pasu-pasu karena ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kuliner Batak juga bisa dikreasikan secara modern. Dalam budaya kami, arsik dan tuak punya makna mendalam dan sangat populer di kalangan masyarakat Batak,” ujarnya penuh semangat.

Minuman racikan Eszra terdiri dari dua varian: mocktail arsik, yang diadaptasi dari hidangan tradisional arsik, dan cocktail tarombo, yang berbahan dasar andaliman dan nira. Perpaduan ini menghasilkan sensasi rasa yang unik dan autentik, sekaligus mencerminkan warisan kuliner tanah Batak.

Eszra berharap, inovasi yang ia ciptakan dapat memperkenalkan kekayaan kuliner Batak ke kancah nasional bahkan internasional. “Saya yakin bisa bersaing dan meraih hasil terbaik di kompetisi ini,” tutur mahasiswa Universitas Prima Indonesia tersebut, yang sebelumnya juga pernah menjuarai berbagai kompetisi tingkat Sumatera Utara.

Perjalanannya menjadi seorang bartender berawal dari kecintaannya pada kopi. Seusai menamatkan SMA, ia belajar secara otodidak dan sempat membuka coffee shop sendiri. “Saya ingin lebih mendalami dunia minuman, jadi saya bekerja di beberapa outlet sambil belajar dari para senior,” kenangnya.

Dari pengalaman itu, Eszra semakin memahami berbagai teknik dan tren racikan minuman yang tengah digemari. Untuk mengasah kemampuan, ia rutin mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat lokal maupun nasional. “Dengan ikut lomba, saya bisa terus mengasah kreativitas dan kepekaan dalam meracik minuman yang seimbang dan menarik,” ujarnya.

Namun di balik prestasi dan dedikasi itu, Eszra menyoroti masih rendahnya penghargaan terhadap profesi bartender dan barista di Indonesia. “Profesi kami sering dipandang sebelah mata. Padahal, di luar negeri, profesi ini sangat dihargai,” katanya.

Menurutnya, masih banyak pelaku industri yang memberikan upah di bawah standar. “Tampilannya memang terlihat ‘wah’, tapi gajinya sering kali di bawah UMR,” tambahnya.

Ia berharap, profesi bartender dan barista dapat dipandang sebagai pekerjaan profesional yang menjanjikan masa depan cerah. “Skill dan kreativitas harus terus diasah mengikuti perkembangan zaman. Dunia minuman terus berubah, dan kita harus bisa beradaptasi,” pungkasnya dengan optimis.(Ril)